![]() |
MAKASSAR — Momentum peringatan Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat untuk menyuarakan berbagai persoalan sosial yang dinilai masih terjadi di daerah. Salah satunya datang dari Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Utara (KPMKU) Makassar yang turut bergabung dalam aksi “Aliansi Rakyat Menggugat”.
Dalam aksi tersebut, Koordinator Departemen Media Informasi dan Advokasi KPMKU Makassar, Andi, menyampaikan sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kondisi tenaga kerja dan pendidikan di wilayah Kalimantan Utara, khususnya kawasan perbatasan.
Melalui orasi ilmiahnya, Andi menyoroti tiga poin utama yang menjadi perhatian mahasiswa asal Kalimantan Utara, yakni penolakan terhadap tenaga kerja asing (TKA) di Pulau Kalimantan Utara, dorongan pembentukan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) guna meningkatkan kesejahteraan pekerja, serta pemerataan pendidikan di wilayah perbatasan.
Menurutnya, peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk menyampaikan berbagai problematika yang masih dihadapi masyarakat, terutama di daerah perbatasan Indonesia.
“Memperingati Hari Buruh dan Hardiknas adalah momentum yang tepat untuk menyampaikan berbagai problematika yang terjadi di Pulau Kalimantan Utara,” ujar Andi dalam keterangannya.
Ia menegaskan, keterlibatan KPMKU Makassar dalam aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap isu keadilan sosial, baik di sektor ketenagakerjaan maupun pendidikan.
“Ini adalah salah satu bentuk bahwa KPMKU tetap eksis dan peduli terhadap keadilan bagi buruh serta sistem pendidikan, baik dalam skala nasional maupun daerah Kalimantan Utara,” tambahnya.
Aksi yang berlangsung bersama berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat itu juga diwarnai dengan penyampaian aspirasi secara damai, sebagai bentuk dorongan agar pemerintah lebih serius memperhatikan persoalan tenaga kerja dan kualitas pendidikan, khususnya di wilayah perbatasan yang dinilai masih membutuhkan perhatian lebih besar.
Report: Arifuddin Sebatik

